Catatan Seorang Pelajar: 1,1 Liter

Dia menatap sayu selembar uang 5000 rupiah yang berdiam tak bergeming sedikitpun di dalam dompetnya…

Kamis, 27 September 2012.
Matahari menyinari bumi Banjarnegara dengan garangnya, membakar jiwa sepi nan letih yang terhina… Seorang pelajar brengsek berusaha merangsek melewati keramaian parkiran saat jam pelajaran usai. “Langsung bali wae…” begitu pikirnya. Dinaikinya sepeda motor bebek kecilnya, dimasukkannya kunci kontak, lalu diputar ke posisi ON, dengung khas Supra X 125 PGM-FI terdengar, menandakan sensor sensor sedang membaca kondisi kendaraan. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati indikator bensinnya berada pada level terendah dan berkedip kedip dengan genitnya… Ini berarti sepeda motor tersebut harus segera diisi bahan bakar. Urusan bahan bakar bagi pelajar seperti dirinya adalah hal yang maha penting, menyangkut stabilitas nasional dan menguasai hajat hidup orang banyak.

Dia menatap sayu selembar uang 5000 rupiah yang berdiam tak bergeming sedikitpun di dalam dompetnya… Terlihat wajah murung Imam Bonjol di dalam uang lusuh itu… Begitu besar pengorbanan beliau untuk bangsa ini, tapi kenapa wajahnya terpampang pada selembar uang kotor yang nilainya tak begitu besar? Ironis…

Hari itu hari Kamis, artinya jatah mingguan masih jauh. Harus melewati Jumat dan Sabtu untuk mendapatkan nafas sambungan di sekolah. Mampukah dia bertahan dalam kerasnya kehidupan dengan uang yang berjumlah tak lebih dari 10.000 rupiah selama 2 hari? Memang, sebenarnya dia telah mendapat jatah sesuai perhitungan, namun apa daya, ada keperluan mendadak yang mengharuskan dia menyisihkan sebagian uang sakunya. Dan ini berarti jatah mingguan habis sebelum waktunya…

Dia memacu sepeda motornya menuju pompa bensin terdekat. Disodorkannya selembar uang 5000 rupiah seraya berkata “5000 Mas…” kepada operator pompa bensin yang sedang bertugas. Tak sampai 30 detik, 1,1 liter Pertamina Premium berhasil mengalir menuju tangki motornya. Ya, 1,1 liter, tak lebih. Untuk seorang pelajar, pilihan Pertamina Premium adalah pilihan yang paling realistis. Lupakan sejenak program pemerintah yang mengajak kita untuk mengurangi anggaran subsidi dengan membeli BBM Non-Subsidi. Ini pelajar, Bung..!!

Dia kembali mengarungi panasnya aspal dengan perasaan sedikit lebih tenang, dan segera pulang menuju rumah tercinta…
Tetaplah semangat, kawan. Gapailah semua mimpimu, tapakilah jalan hidupmu.

PS: Diangkat dari sebuah kisah nyata

IT’S PROUD TO BE WONOGIREN!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s