Madness in Lebaran

Sebelum ane misuh-misuh, perkenankan ane buat menghaturkan salam sungkem kepada ndoro-ndoro sekalian yang merayakan hari raya Idul Fitri.Selama blog ecek-ecek ini berkibar tentunya ada sepatah dua patah tulisan yang mungkin menyinggung ndoro sekalian, maka ijinken kami selaku ahlulbait mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Please accept my sincerest apologies yo dab 🙂

Kembali ke topik utama.
Lebaran, sebuah momen dimana jutaan manusia merayakannya. Dari anak kecil sampe ABG tua, dari germo sampai kyai.
Mereka merayakannya dengan penuh suka cita. Tidak sedikit diantara mereka yang merayakannya secara sedikit berlebihan. Ane sebut gejala sosial ini sebagai Madness in Lebaran.

madnessDi kota kecil ini, Banjarnegara, orang-orang biasane spent their money on buying some shit menjelang lebaran. Dari baju, sampe makanan.
Okelah klo baju mungkin udah jadi tradisi di seluruh Indonesia, kan ada lagunya tuh..

“Baju baru alhamdulilah, buat dipake di hari raya”

Nah yang bikin bingung tuh kebiasaan disini yang agak absurd menurut ane. Menjelang lebaran, orang-orang dari penjuru Banjarnegara tumplek blek di pasar kota, tujuannya tak lain dan tak bukan adalah belanja.

Absurd? Ya, karena mereka memilih hari yang sama, di tempat yang sama. Macet? Jelas! Sayangnya ane enggak bisa ngambil foto pas momen tersebut.

Itu maksudnya apa coba, dateng ke pasar bebarengan. Emang kemarin ngapain aja? Takut daging yang situ beli basi? Perasaan beli daging enggak harus di pasar kota deh.. Takut harga barang-barang naik? Justru sejauh pengamatan ane, harga barang-barang malah lebih mahal ketika hari raya tiba. Diskon hari raya itu cuma ada di superstore! Meh nggaya? Mbuh lah..

It’s okay they bought their shit using their own money. But in my opinion, it waste a lot man! Seolah-olah mereka bekerja selama setahun cuma buat sehari, yaitu lebaran. Padahal klo diliat dari ndas-ndasan mereka, mereka itu bukan orang-orang yang, maaf, punya duit terlalu banyak.

Mungkin tradisi ini udah mulai luntur di kota-kota besar. Syukurlah, berarti Indonesia punya generasi anti-consumerism di masa depan 😀

Terakhir ane denger info, daging sapi kemarin tembus 120.000 rupiah per kilogram. Harga segini enggak masalah buat mereka yang masih berpola pikir ortodoks.

“Ah, gapapa deh abis duit banyak di hari lebaran. Setahun cuma sekali ini”

Menurut ane akan lebih bijak klo semuanya dipersiapkan secara matang. Klo pengen ngebeliin baju baru ya mending jauh-jauh hari sebelum harga barang-barang naik. Lebih efisien kan?
Mendadak jadi karnivora pemakan ketupat pas lebaran juga wajar sih, asal secukupnya aja. Enggak perlu nyiapin opor ayam, rendang, sama sengshu sekaligus dalam satu hari.

Di kampung ane, lebaran masih dihiasi kesederhanaan. Setelah sholat Ied orang-orang biasanya menggelar semacam acara slametan njuk halal bihalal trus dilanjutin ngegawe di tempat masing-masing. Justru ini yang ane suka.

Tapi ya beginilah yang namanya tradisi, kadang sulit dipahami.

IT’S PROUD TO BE WONOGIREN!

Advertisements

2 responses to “Madness in Lebaran

  1. SETUJU gan!!
    kalo dijakarta sih pusat madnessnya ya di tanah abang. dan innalilahi banget, crowded! sesak! harusnya sih kalo orang bijak yang memperhitungkan peluang dll, belanjanya bisa jauh2 hari misal H-20 atau mungkin H+2. kan lebih lengang tuh 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s